Bolehkah Berpikir dan Bertindak Radikal?

Pertanyaan ini lebih karena refleksi pribadi yang lahir dari pembacaan wacana ilmu sosial di level nasional dan internasional. Titik konkretnya adalah ketika melihat gerakan sosial di Indonesia yang dengan kurang tepat (ini subyektif) menggunakan istilah *radikal* sebagai kata tunjuk kepada aliansi islam seperti Jamaah Islamiah (JI), Majlis Muhahidin, dan belakangan Front Pembela Islam (FPI) digolongkan ke sana. Tak jelas apa indikator aliansi kayak gini disebut radikal.Tapi bisa kita asumsikan (jika dibolehkan) mengapa banyak pihak melekatkan klaim radikal ini pada model islam seperti JI, MM, FPI. Sebut saja karena ajaran mereka: keras, menghendaki peperangan, perampasan, perusakan fasilitas umum, dan merubah tatanan negara dengan Darul Islam. Demonstrasi yang ditunjukkan dengan bom bali, atau 212, sweeping nightclub bisa dikatakan keras. Dan karena keras itulah maka muncul kata radikal. Apa ada yang lebih tepat dari radikal? Saya tak tahu. Karena keberatan saya bukan pada kajian filologi tetapi pengaruh dari engagement kata radikal pada kata keras. Itu yang jarang dilihat oleh kita selama ini. Foucault mengatakan bahwa faktor “exteriority” itu tak boleh dilupakan dari sebuah statement (dalam hal ini radikal).

Bisa kita lihat efek yang berlanjut ini pada upaya pemerintah dan lembaga internasional dalam membendung radikalisme yaitu men-deradikalisasi. Maksudnya agar seseorang tidak radikal (tidak membom, tidak demo, tidak sweeping). Pendeknya, bahwa menjadi radikal dalam konteks Indonesia tidak diperkenankan. Tidak saja dalam konteks agama tetapi bidang-bidang lain. Jika begitu wajar orde baru melarang pembacaan pemikiran radikal Das Capital karena akan mengancam mereka.

Radikal menurut bahasa inggris berarti “of or going to the root or origin”. Sesuatu yang mengakar atau asal-muasal. Jika islam garis keras disebut radikal itu artinya menganggap mereka kembali pada asal-muasal ajaran islam. Namun, apakah asal-muasal dari ajaran islam adalah kekerasan? Ini masih diperdebatkan karena islam dalam makna keseharian selalu ditandai dengan keramahan. Meyakini bahwa Allah maha welas asih.

Nahasnya, tidak saja islam garis keras yang diklaim radikal tetapi islam secara umum juga mengalami benturan. Berkembangnya islamphobia di kalangan Barat bisa dijadikan bukti bahwa islam secara umum dibingkai dalam pandangan buruk.

Saya lebih meyakini bahwa pelekatan radikal dalam kajian islam itu adalah pilihan politis dan bukan tinjauan sosiologis. Dengan menganggap Islam radikal maka ia berada satu deret dengan radikal ekonomi seperti Karl Marx.

Kembali pada pertanyaan awal kita, bolehkah berpikir dan bertindak radikal? Dengan tegas saya katakana: wajib. Berpikir radikal tidak negative, tidak pula buruk. Ia memendam potensi perbaikan. Kita butuh gerakan radikal dalam politik praktis guna menggebrak parlemen. Kita butuh pikiran radikal guna menguraikan persoalan transportasi di Indonesia. Kitapun butuh gerakan radikal untuk memperbaiki undang-undang pertanahan.

Bahwa kita menolak islam garis keras itu tak bisa kita pungkiri. Sekali lagi yang kita persoalkan klaim radikalnya. Kita menolak perusakan. Sambil terus berupa memperbaiki keadaan. Dan radikal –sekali lagi- berpotensi memperbaiki.

Namun melihat pemberitaan media tanah air sekarang ini rasanya memang sulit. Dan perjuangkan untuk terus berpikir radikal selalu mengalami hambatan. Framing media membentuk pemahaman publik akan buruknya citra pemikiran dan tindakan radikal. Itu sebabnya kita perlu memiliki media sendiri untuk menyuarakan kepada khalayak yang tidak paham dengan wacana ini. Tanpa itu akan sangat sulit.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mencari Pemimpin Inklusif Pada Pemilu Jabar

Ada teori yang menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia memiliki keunikan dan kekuatan. Seberapapun kerasnya polemik demokrasi yang dihadapi cepat atau lambat akan teratasi secara alamiah. Teori seperti ini didasarkan pada argumentasi historis seperti kesuksesan mengakhiri era otoriter Orde Baru selama 32 tahun berkuasa. Jika teori ini dapat dibenarnya, ada alasan cukup kuat untuk berharap pada pemilihan umum daerah (Pemilukada) di Jawa Barat beberapa waktu mendatang.

Persoalan intoleransi di Jawa Barat (selanjutnya disingkat: Jabar) memang menjadi persoalan yang rumit. Di level nasional Jabar berada di urutan pertama atas kasus-kasus intoleransi yang tersebar dalam berbagai kasus: pengusiran warga minoritas, penutupan rumah ibadah, dan diskriminasi pelayanan publik. Lebih-lebih, pemerintah kota di sini justeru menjadi aktor utama kasus intoleransi. Tentu pergantian pucuk pimpinan di Jabar ini diharapkan mampu menguraikan sengketa secara lebih konkret.

Titik Konflik

Membangun demokrasi secara kualitatif membutuhkan komitment kuat. Kita tahu bahwa negara-negara mapan seperti Amerika Serikat sekalipun dihantui diskriminasi rasial dan islamophobia akut hingga detik ini. Wajar jika negara muda seperti Indonesia juga masih tetap mencapai bentuk yang ideal dalam menata negara secara demokratis.

Sekalipun hari ini upaya menyemai demokrasi itu bersinggungan dengan ujaran kebencian, berita hoax, dan demonstrasi yang lebih nyata di media massa. Agen-agen yang mendiseminasikan kekerasan di setiap lini itu berusaha mencapai dua titik sekaligus. Pertama, merusak kualitas demokrasi yang sudah dibangun oleh masyarakat. Kedua, mencapai kekuasaan real baik di tingkat eksekutif maupun legislatif. Upaya ini disemai sampai ke akar dengan pidato-pidato provokatif di mimbar khutbah.

Kampanye pelintiran kebencian yang berkelanjutan telah menurunkan dimensi-dimensi dari kualitas demokrasi tersebut. Pembicaraan yang meminggirkan kelompok minoritas telah dianggap wajar dalam diskursus politik arus utama, sehingga mengancam status kaum minoritas sebagai warganegara yang punya hak yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi di negara yang bersangkutan (Cherian Gaorge, 2017).

Dalam beberapa hal ketika ujaran kebencian ini dirasa tak cukup, tindakan kekerasan dikerahkan. Penutupan rumah ibadah atas nama sebagian masyarakat dan didukung pemerintah kota adalah salah satu contoh.

Ledakan intoleransi di Jabar ini bukan sekadar histeria atau sekadar menuntut perhatian para kelompok ekstrimis tetapi mencerminkan strategi yang tersusun, canggih, dan berjejaring kuat. Kita tidak sedang menghadapi sikap nyinyir sekelompok kecil masyarakat tetapi ancaman terhadap demokrasi yang besar. Dengan memunculkan rasa tidak aman pada minoritas rentan, muncullah kepanikan moral. Imbasnya adalah rasa percaya pada demokrasi yang kian menyusut.

Kampanye intoleransi di Jabar berlangsung terang-terangan, cepat, dan mengakar. Nahasnya, mekanisme hukum untuk menyelesaikan persoalan sangat lambat, dan tidak responsif. Ia tidak bisa mengikuti setiap kasus dengan cepat. Anjuran Cherian Gaorge untuk tidak terlalu mengandalkan hukum dalam melawan kelompok intoleran bisa dibenarkan di sini. “Intoleransi agama” katanya “perlu melibatkan peran media yang punya tanggung jawab sosial, organisasi kemasyarakatan yang progresif, serta perlawanan publik terhadap muslihat para provokator” (Cherian Gaorge, 2017: hal 269). Hanya saja bagi pemimpin baru nanti hukum tetap dinilai penting sebagai landasan demokrasi. Reformasi hukum yang compatible dengan kemajemukan mutlak dibutuhkan dengan memastikan keadilan bagi setiap individunya.

Pada akhirnya masyarakat Jawa Barat sendiri yang akan menentukan siapa pemimpin inklusif yang berhak memenangi pemilukada nanti. Pemimpin inklusif tidak saja pemimpin yang menghargai kemajemukan tetapi memastikan keamanan, ketentraman hidup bersama dengan beragam perbedaan identitas. Namun pemimpin seperti ini haruslah siap untuk tidak populis di kalangan masyarakat bahkan akan dianggap menyimpang.

Era digital seperti sekarang ini sebenarnya mempermudah masyarakat untuk melihat visi dan misi tiap calon gubernur dan wakil gubernur. Dan bahkan berinteraksi secara intensif dengan mereka. Di sini ruang demokrasi masih bisa diandalkan. Kritik konsutruktif juga mudah didorong melalui media sosial. Pemimpin inklusif-transformatif sangat dibutuhkan masyarakat Jabar untuk memecah kebuntuan ini semua.

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar